Bagaimana Cara Mempertahankan Cinta ?
Agar cinta ini menjadi kuat dan bertahan lama, maka harus dilakukan beberapa langkah berikut ini :
Menyatakan Cinta
Hal ini tidak hanya bisa melanggengkan keakraban, memperkokoh kasih sayang, mempertebal rasa cinta, menyatukan kata, dan mempererat hubungan sesama muslim. Tapi juga bisa melenyapkan keretakan dan kedengkian. Dan ini merupakan bagian dari wujud keindahan syari’at.
Dari Abu Dzar ra, ia mendengar bahwa Rasulullah saw. Bersabda :
“Jika seorang dari kalian mencintai saudaranya, hendaklah ia datang ke rumahnya dan kabarkanlah padanya bahwa ia mencintainya karena Allah.”
Catatan TentanG..
Sunday, October 18, 2009
Monday, October 5, 2009
AKU bukanlah AKU
AKU bukanlah AKU...
05 Oktober 2009
Ku-lihat tadi seorang Aku,
Di sana ia habiskan siangnya..
Pikiran & peluhnya bercucur di sana
Katanya sih untuk perjuangan agama..?
Kulihat lagi-sekali lagi
Aku bergerak,
...
ternyata dada ini penuh sesak’
diukir penat, keruwetan menjamak
Belum lagi ini sudah
Yang lain minta menyudah..
Yang itu sudah mentadah..
Aah,..
Ribet banget ini hari
Berkakuan fikir dan penat
Darahku mengental pekat
Tak tau lagi nama Tuhan-’INGAT’
...
Kucoba beranjak ke pojokan sana-bersila
Muncul tanya,
Adakah ini Aku?
Yang terbiasa penuh redam-tenang?
Tak pernah kaku pikiran..?
Adakah ini tadi AKU?
...
Masih Kulihat seorang di pojokan sana
Kali ini Ku berdiri, membungkuk-duduk-sujud
Bergerak laiknya orang-orang yang bersamanya
Diulang-ulangnya gerakan2 aneh itu..
Tapi Ku-tak tahu, kenapa Aku melakukan itu
Katanya..
Inilah yang namanya sembahyang
Caranya menyembah pada Sang Hyang
Caranya komunikasi-bicara sama Tuhan
Ku pikir lagi..
Apa yang sudah Aku omongkan..Pada-Nya..?
Tuhan..?
Adakah Aku berbicara dengan-Nya..?
Bukankah Ku-lihat tadi hanyalah ...
Onggok-wadag tampak bergerak ??
Lalu dimana tadi AKU?
...
Aaah.. tambah binGung Aku..!
...
Masih kulihat Aku duduk termenung di pojokan shaff
Matanya memerah, habis menangis rupanya Aku
Agaknya Ku mulai sadari ini..
Sebuah arti
...
Ternyata AKU,
Aku bukanlah yang kala Ku-lihat bekerja siang-malam,
Aku bukanlah yang Ku-lihat kala sembahyang,
Aku bukanlah yang Ku-lihat-kupahami sebagai AKU,
Karena memang ternyata..
AKU bukanlah AKU
...
Tiba-tiba...
Keesokan hari
Masih di langgar itu
Kulihat banyak sekali orang berkerumul di sana
Ku coba bertanya
...
Ternyata telah ditemukan seonggok ’mayat’ di shaff depan
Apik benar – kaku dalam ’sujud’nya..
Ku tanya- Ku lihat lagi
Mayat siapakah gerangan..
SubhaanaLlaaH,
Ternyata..
Ini ternyata ’mayat’ arif,
arif affandi..!
Ya..’mayat’-Aku..!
...
Ku berpikir, Lalu..
Dimanakah ’AKU’ sekarang..?
Siapakah sejatinya ’AKU’..??
AKU telah bersama-Nya, Tuhan
...
...
...
...
Sejatinya,
AKU hanyalah ’JIWA’
Yang ’Hidup’ dalam onggok-wadag tampak bergerak
...
Hanya ketika Ku-ingat nama Tuhanku,
Ku akan ’Mati’-tak berarti
Dalam onggok-wadag tampak bergerak
Ketika Ku-lalai dari mengingat-Nya..
--by Arif Affandi,2009--
Monday, September 28, 2009
Hidup dengan Cahaya Hati (part 1)
Tag: artikel,diary,religi,umum
also posted at: http://www.facebook.com/arifaffandi
Hidup dengan Cahaya Hati (part 1)
28 September 2009
Sebuah film tengah ditonton banyak orang malam itu..Ketika Cinta Bertasbih 2..menarik sekali.. Sebuah cerita tentang romantisme dan.. tau sendiri laah critanya..
....
Tapi bukan, bukan tentang isi ceritanya yang menggelitik hatiku untuk kembali menulis..
Sejenak kuperhatikan cahaya yang keluar dari mesin proyektor di ruang atas. Dari sebuah kepingan CD yang berisi rekaman film, keluar lewat cahaya dan akhirnya muncullah sebuah film yang bisa dinikmati banyak orang.
Hmmm..ternyata ini..!
Ternyata kita juga sama.. Manusia juga tengah membuat film..Film yang berisi tentang segala perilakunya, tindakan dan aktivitasnya mulai bangun tidur sampai tidur lagi, dan begitu seterusnya setiap hari sampai dia mati.
Dan ternyata..film2 yang tengah kita buat setiap hari itupun berasal dari sumber yang satu, ada di dalam diri kita masing-masing..apa itu? Jawabannya adalah ’HATI’. Sebagaimana sebuah film di bioskop tadi, Hidup kita sesungguhnya adalah cahaya yang keluar dari proyektor di ruang hati kita.
Jadi setiap apa yang kita lakukan, hasil apapun yang kita dapatkan, kesuksesan & kegagalan hidup, kekayaan, kemiskinan, sakit, sehat, kesulitan, kemudahan, semuanya bersumber dari ’hati’ kita. Kita ingin jadi orang seperti apapun, entah pengusaha, karyawan, buruh, petani, pengangguran sampe gelandangan pun itu tergantung pada ’hati’ kita. Simpelnya, cerita apapun yang akan kita buat dalam mengarungi hidup dapat kita ubah dan tentukan sendiri dengan ’hanya’ mengganti hati (baca: perasaan) kita, semudah ketika kita mengganti keping CD dari tempatnya. Nah..Loooh..ko bisa..?
also posted at: http://www.facebook.com/arifaffandi
Hidup dengan Cahaya Hati (part 1)
28 September 2009
Sebuah film tengah ditonton banyak orang malam itu..Ketika Cinta Bertasbih 2..menarik sekali.. Sebuah cerita tentang romantisme dan.. tau sendiri laah critanya..
....
Tapi bukan, bukan tentang isi ceritanya yang menggelitik hatiku untuk kembali menulis..
Sejenak kuperhatikan cahaya yang keluar dari mesin proyektor di ruang atas. Dari sebuah kepingan CD yang berisi rekaman film, keluar lewat cahaya dan akhirnya muncullah sebuah film yang bisa dinikmati banyak orang.
Hmmm..ternyata ini..!
Ternyata kita juga sama.. Manusia juga tengah membuat film..Film yang berisi tentang segala perilakunya, tindakan dan aktivitasnya mulai bangun tidur sampai tidur lagi, dan begitu seterusnya setiap hari sampai dia mati.
Dan ternyata..film2 yang tengah kita buat setiap hari itupun berasal dari sumber yang satu, ada di dalam diri kita masing-masing..apa itu? Jawabannya adalah ’HATI’. Sebagaimana sebuah film di bioskop tadi, Hidup kita sesungguhnya adalah cahaya yang keluar dari proyektor di ruang hati kita.
Jadi setiap apa yang kita lakukan, hasil apapun yang kita dapatkan, kesuksesan & kegagalan hidup, kekayaan, kemiskinan, sakit, sehat, kesulitan, kemudahan, semuanya bersumber dari ’hati’ kita. Kita ingin jadi orang seperti apapun, entah pengusaha, karyawan, buruh, petani, pengangguran sampe gelandangan pun itu tergantung pada ’hati’ kita. Simpelnya, cerita apapun yang akan kita buat dalam mengarungi hidup dapat kita ubah dan tentukan sendiri dengan ’hanya’ mengganti hati (baca: perasaan) kita, semudah ketika kita mengganti keping CD dari tempatnya. Nah..Loooh..ko bisa..?
Saturday, September 26, 2009
‘where is Allah in my Heart?’
‘where is Allah in my Heart?’
25 September 2009
Dimana Allah SWT dalam Hati kita? Renungkan dan pikirkanlah kalimat ini, Saudaraku. Karena Ali bin Abi Thalib ra, pernah menyifatkan keadaan para shalihin di zamannya dengan mangatakan:
“azhumal khaliqu fii quluubihim, fashaghura maa duunahu fii a’yunihim” (Sungguh Keagungan Allah telah mendominasi dinding hati mereka, Karenanya menjadi kecil dan tidak berartilah di mata mereka, selain Allah).
Para sahabat dan salafussalih, Mereka menjadi besar karena telah meyakini kebesaran dan keagungan Allah SWT. Kedudukan mereka menjadi tinggi, karena telah meninggikan Allah SWT. Jiwa mereka telah sibuk dengan hanya mengagungkan Allah SWT, sehingga mereka menjadi tidak takut kecuali karena Allah, menjadi tidak tenang kecuali bila dekat kepada Allah, menjadi tidak memiliki tempat bersandar kecuali kepada Allah, menjadi tidak mempunyai tempat bergantung kecuali Allah. ‘KEAGUNGAN’ Allah telah ‘meRAJAi’ hati mereka.
25 September 2009
Dimana Allah SWT dalam Hati kita? Renungkan dan pikirkanlah kalimat ini, Saudaraku. Karena Ali bin Abi Thalib ra, pernah menyifatkan keadaan para shalihin di zamannya dengan mangatakan:
“azhumal khaliqu fii quluubihim, fashaghura maa duunahu fii a’yunihim” (Sungguh Keagungan Allah telah mendominasi dinding hati mereka, Karenanya menjadi kecil dan tidak berartilah di mata mereka, selain Allah).
Para sahabat dan salafussalih, Mereka menjadi besar karena telah meyakini kebesaran dan keagungan Allah SWT. Kedudukan mereka menjadi tinggi, karena telah meninggikan Allah SWT. Jiwa mereka telah sibuk dengan hanya mengagungkan Allah SWT, sehingga mereka menjadi tidak takut kecuali karena Allah, menjadi tidak tenang kecuali bila dekat kepada Allah, menjadi tidak memiliki tempat bersandar kecuali kepada Allah, menjadi tidak mempunyai tempat bergantung kecuali Allah. ‘KEAGUNGAN’ Allah telah ‘meRAJAi’ hati mereka.
Monday, September 21, 2009
Ketika kita Berlabuh
Ketika kita Berlabuh
30 Maret 2009
Dunia,
Sandaran,
Labuhan
...
Di sini dunia
Kita hanya inginkan isi kapal, bekal
Hanya sebentar saja,
Mungkin hanya sehari
Atau setengah hari
Kita kan pergi lagi
Isi kapal dengan sebanyak bekal
Di sana
Lautan luas tiada tepi
Perjalanan panjang kawan
...
Sebuah hamparan
keabadian
Bahkan kita semua akan ke sana
Di sana,
kita berhenti untuk kekal
Isi kapal dengan sebanyak bekal
Karna pasti kita di sana akan ada sesal
Akan ada tangis beribu
Orang-orang yang minta kembali berlabuh
Tapi tak bisa kawan,
Cukuplah ini Tuhan kasih kesempatan
Jangan pernah siakan
Cukup sekali ini sandaran, labuhan
Isi dan isi terus kawan,
Karna pasti, kita di sana akan ada sesal
...
--by Arif Affandi,2009--
30 Maret 2009
Dunia,
Sandaran,
Labuhan
...
Di sini dunia
Kita hanya inginkan isi kapal, bekal
Hanya sebentar saja,
Mungkin hanya sehari
Atau setengah hari
Kita kan pergi lagi
Isi kapal dengan sebanyak bekal
Di sana
Lautan luas tiada tepi
Perjalanan panjang kawan
...
Sebuah hamparan
keabadian
Bahkan kita semua akan ke sana
Di sana,
kita berhenti untuk kekal
Isi kapal dengan sebanyak bekal
Karna pasti kita di sana akan ada sesal
Akan ada tangis beribu
Orang-orang yang minta kembali berlabuh
Tapi tak bisa kawan,
Cukuplah ini Tuhan kasih kesempatan
Jangan pernah siakan
Cukup sekali ini sandaran, labuhan
Isi dan isi terus kawan,
Karna pasti, kita di sana akan ada sesal
...
--by Arif Affandi,2009--
Menjadi ’Cengeng’
Menjadi ’Cengeng’
Januari 2009
Barusan ku masih bisa ketawa
Lepas saja tanpa berasa
Tapi di langgar kini
Jadi termenung sendiri
Tak terasa mata tlah merah
Berambah merah jua makin lama
Muncul setetes buih-bening-linang
Januari 2009
Barusan ku masih bisa ketawa
Lepas saja tanpa berasa
Tapi di langgar kini
Jadi termenung sendiri
Tak terasa mata tlah merah
Berambah merah jua makin lama
Muncul setetes buih-bening-linang
Dari Chairil Anwar untuk arif affandi
Dari Chairil Anwar untuk arif affandi
Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai,
Mainan cahya di air hilang bentuk dalam kabut,
Dan suara yang kucintai ‘kan berhenti membelai.
Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut
Kita – anjing diburu –
hanya melihat sebagian dari sandiwara sekarang
tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur
atau di ranjang
lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu
keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat
Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu
Jika bedil sudah disimpan, Cuma kenangan berdebu;
Kita memburu arti atau diserahkan kepada anak lahir sempat.
Karena itu jangan mengerdip,tatap dan penamu asah,
Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering sedikit mau basah!
--Ch.Anwar-- 1946
Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai,
Mainan cahya di air hilang bentuk dalam kabut,
Dan suara yang kucintai ‘kan berhenti membelai.
Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut
Kita – anjing diburu –
hanya melihat sebagian dari sandiwara sekarang
tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur
atau di ranjang
lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu
keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat
Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu
Jika bedil sudah disimpan, Cuma kenangan berdebu;
Kita memburu arti atau diserahkan kepada anak lahir sempat.
Karena itu jangan mengerdip,tatap dan penamu asah,
Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering sedikit mau basah!
--Ch.Anwar-- 1946
Subscribe to:
Posts (Atom)
